Dampak dari pandemi Covid 19, membuat bisnis industri penerbangan mengalami kesulitan. Covid 19 membuat maskapai penerbangan harus menghentikan operasionalnya sementara, karena ada kebijakan pembatasan mobilitas di berbagai negara. Berhentinya operasional maskapai penerbangan ini membuat pesawat harus grounded, dan pendapatan mereka pun menjadi terganggu.

Kondisi ini membuat beberapa maskapai penerbangan memilih kebijakan mengurangi karyawan mereka, untuk melakukan efisiensi pengeluaran di tengah pandemi Covid 19. Beberapa maskapai yang melakukan kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawannya: Maskapai penerbangan AirAsia Malaysia, dikabarkan berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawannya.

Mengutip dari laman situs Reuters pada Rabu (30/9/2020), rencana PHK terhadap karyawannya ini disebut sebagai efisiensi di tengah pandemi Covid 19. PHK yang akan dilakukan terhadap manajemen AirAsia Berhad ataupun anak usaha yang melayani penerbangan jarak jauh, yaitu AirAsia X Berhad. CEO AirAsia Malaysia Riad Asmat menyebutkan, karyawan yang terkena PHK ini akan kembali direkrut apabila pandemi sudah berlalu.

Karyawan yang berdampak PHK juga akan diberikan sejumlah bantuan untuk seperti tunjangan kesehatan dan penukaran kupon penerbangan akhir tahun. Maskapai penerbangan Virgin Atlantic, mengumumkan akan melakukan PHK terhadap 1.150 karyawannya. Menurut laporan dari laman situs Reuters pada Senin (7/9/2020), hal ini dilakukan Virgin Atlantic untuk mempertahankan bisnis di tengah pandemi Covid 19.

CEO Virgin Atlantic Shai Weiss menyebutkan, mengurangi karyawan memang menjadi hal yang menyedihkan. Tetapi ini diperlukan untuk kelangsungan hidup maskapai. Selanjutnya ada maskapai penerbangan United Airlines, yang berencana memangkas 2.850 pilotnya pada periode 1 Oktober 2020 hingga 30 November 2020. Langkah tersebut diambil United Airlines, menyusul selesainya bantuan dari Pemerintah Amerika Serikat pada September 2020 mendatang.

Menurut memo United Airlines, pada Oktober 2020 akan ada pemangkasan pilot sebanyak 1.747 orang dan 572 orang lainnya menyusul pada akhir Oktober 2020. Sedangkan sisanya yaitu sebanyak 531 pilot yang akan dilakukan PHK, pada 30 November 2020. Kebijakan PHK maskapai asal Amerika Serikat ini, karena potensi bisnis penerbangan yang semakin melemah dan ini merupakan opsi untuk tetap bertahan di tengah Covid 19.

Selain melakukan PHK, United Airlines juga menawarkan pensiun dini secara sukarela kepada karyawannya untuk menghindari adanya PHK lanjutan. Maskapai yang ikut mengambil kebijakan PHK terhadap karyawannya yaitu Finnair, yang memutuskan untuk mengurangi 1.000 karyawannya. Mengutip dari laman situs AFP, keputusan melakukan PHK ini karena dampak Covid 19 yang memukul industri penerbangan.

Menurut kepala eksekutif Finnair Topi Maner, saat ini pendapatan perusahaan turun drastis dan itu mengapa adanya penyesuaian yang harus dilakukan. "Di tengah situasi pandemi Covid 19 ini, tidak terlihat adanya perkembangan ke arah yang lebih baik," ucap Topi Manner. Maskapai penerbangan asal Finlandia mengatakan, 1.000 pekerja yang akan terdampak PHK ini tidak termasuk awak kabin dan dek penerbangan.

Kemudian kebijakan PHK juga dilakukan maskapai asal Australia, Qantas Airways. Maskapai penerbangan ini memutuskan untuk mengurangi 4.000 karyawannya. Mengutip dari laman situs BBC, langkah PHK ini dilakukan karena dampak virus corona yang membuat kondisi perdagangan maskapai menjadi sangat buruk. Menurut Qantas, saat ini industri penerbangan global sangat terpukul karena pembatasan perjalanan yang diberlakukan di seluruh dunia.

Kepala eksekutif Qantas Group Alan Joyce mengatakan, dampak virus corona atau Covid 19 sangat berdampak terhadap industri penerbangan. "Covid 19 menghancurkan industri penerbangan dan juga keberlangsungan hidup banyak orang, karena banyak perusahaan yang tedampak pula," ucap Alan. Menurut Alan, pemulihan industri penerbangan akibat dampak Covid 19 ini akan memakan waktu yang lama dan harus merombak sistem yang sudah ada.

Selain itu Alan juga mengatakan, saat ini Qantas mengalami kerugian yang besar tahun ini. Kerugian ini sebagian besar karena turunnya nilai aset dan pembayaran redundansi. Maskapai asal Amerika Serikat (AS) juga tidak luput dari kebijakan PHK. American Airlines diketahui melakukan pengurangan terhadap 25 ribu karyawannya. Mengutip dari laman situs NECN, maskapai American Airlines memberikan opsi paket pensiun dini agar tetap mendapatkan jaminan penggajian sebelum adanya PHK.

CEO American Airlines Doug Parker mengatakan, pada Juni 2020 lalu pendapatan maskapai turun 80 persen dibandingkan 2019. Anjloknya pendapatan ini akibat menurunnya pesanan perjalanan, yang disebabkan melonjaknya kasus Covid 19 di berbagai negara. "Tingkat infeksi meningkat dan beberapa negara melakukan pembatasan wilayah lagi, permintaan untuk perjalanan udara melambat jadi semakin lagi," ungkap Parker.

Sejak April 2020 lalu, diketahui seluruh maskapai di AS telah mendapatkan dana bantuan yang digelontorkan federal senilai 25 miliar dolar AS, dengan syarat tidak diperbolehkan memotong gaji atau PHK karyawan hingga 30 September 2020. Terakhir ada maskapai Emirates yang melakukan PHK terhadap pilot dan awak kabin mereka. Terkait karyawan yang dikurangi, pihak maskapai tidak memberikan informasi mengenai jumlahnya. Tetapi menurut laporan dari laman situs Reuters, maskapai asal Uni Emirat Arab ini melakukan PHK terhadap ribuan pegawainya termasuk pilot dan awak kabin.

Langkah ini diambil Emirates, agar tetap dapat mengelola keuangan di tengah wabah virus corona atau Covid 19. Juru Bicara Emirates mengatakan, jumlah pegawai Emirates merosot hampir sepertiga dari jumlah saat wabah Covid 19 ini belum terjadi. Emirates sendiri, memiliki pegawai termasuk pilot sebanyak 4.300 orang dan 22.000 awak kabin.

"Emirates Group masih dalam proses pengimplementasian uji coba perampingan," kata juru bicara Emirates. Langkah PHK ini, disebutkan terjadi pada sebagian besar pilot Emirates yang menerbangkan pesawat berbadan lebar Airbus A380.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *